Halaman

    Social Items

Peran ayah tidak hanya untuk anaknya, tapi juga untuk menguatkan dan mendampingi sang ibu

Ibu telah mengandung anak selama 9 bulan dan berjuang dalam proses melahirkan. Praktis, peran ibu pun terbilang lebih besar dalam mengasuh anak. Namun, mengasuh anak bukan hanya tanggung jawab ibu. Idealnya, ayah dan ibu memiliki porsi seimbang dalam memberikan kasih sayang dan mengasuh sang buah hati. Seorang ayah juga punya peran penting dalam fase tumbuh kembang anak.

"Bagaimana pun juga pengasuh utama biasanya di dalam rumah tangga ini adalah ibu. Tentu saja tanpa mengesampingkan peran bapak, karena peran bapak pun luar biasa," ujar Indria Laksmi Gamayanti, M.Si, Psikolog, Ketua Kemuning Kembar dan Ketua Ikatan Psikologi Klinis.

Jangan sampai pemikiran mengenai pengasuhan hanya mementingkan peran seorang ibu. Memang seorang ibu paling utama, tapi peran ayah juga dibutuhkan. Peran ayah tidak hanya untuk anaknya, tapi sangat dibutuhkan untuk menguatkan dan mendampingi sang ibu. Peran seorang ayah ini juga penting, seperti menjalin kedekatan hubungan dan komunikasi antara ayah dengan anaknya.

Kedua peran dari ayah dan ibu ini sangat penting. Selain baik dalam pembentukkan karakter, anak juga akan lebih akrab anak dan membuat anak percaya pada orantuanya. Pengasuhan yang dilakukan bersama-sama juga bisa membuat keluarga lebih harmonis sekaligus langgeng. Suasana tersebut akan membuat anak tidak akan tergantung oleh salah satu orangtuanya.

"Pada intinya, dalam pengasuhan harus ada keseimbangan. Sebab, kebutuhan anak akan sentuhan ibu dan ayahnya itu sama besarnya," tutupnya. kata Indria yang Parentopedia.net kutip dari Kompas (15/04).

Ayah Juga Berperan Penting dalam Pengasuhan Anak

Untuk mengajarkan anak tanggung jawab, beri si kecil kesempatan melakukannya.

Mengajarkan anak akan pentingnya tanggung jawab wajib dilakukan sedini mungkin. Orangtua mana yang tidak ingin memiliki anak yang bertanggung jawab? Terutama tanggung jawab pada diri sendiri seperti membereskan kamar, memelihara pakaian selalu bersih, dan tanggung jawab belajar.

Orangtua dapat memulai dari hal-hal kecil. Namun, itu akan berdampak pada hal-hal besar ketika anak dewasa kelak. Untuk mengajarkan anak tanggung jawab, beri si kecil kesempatan melakukannya. Seperti yang Parentopedia.net lansir dari Okezone, berikut cara mengajarkan anak bertanggung jawab.

Beri kesempatan

Kebanyakan orangtua takut anak terluka atau menanggung risiko bila gagal menyelesaikan tanggung jawabnya. Sehingga orangtua mengambil alih tanggung jawab anak. Alhasil, anak tidak pernah belajar dan menjadi pribadi yang bertangung jawab. Oleh sebab itu, beri anak kesempatan makan sendiri, mandi sendiri, membersihkan kamar mereka. Walau hasil awal berantakan, tetapi anak sudah mencoba. Selanjutnya kawal terus agar anak menyelesaikan tanggung jawabnya dengan benar.

Tunjukkan aturan yang benar

Biasakan menjaga kebersihan rumah. Beri standar tinggi mengenai persoalan kebersihan di rumah. Ketika anak menyadari dia selalu ada di lingkungan yang bersih, ajarkan tanggung jawab untuk menjaga kebersihan. Sekalipun bila anak menumpahkan meses, minta dia membereskannya langsung.

Ingat, anak tak selalu benar melakukan “pekerjaan”

Ingat, hasil kerja anak tak sama dengan hasil pekerjaan Anda atau asisten rumah tangga. Tugas Anda adalah mengajarkan kebiasaan baik agar anak bertanggung jawab. Beri anak dukungan dan bantuan ketika dia harus melakukan pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawabnya.

Cara Mengajarkan Anak Bertanggung Jawab

Ibu sebaiknya hadir sepenuhnya (mindful) di sisi anak. Jangan ada di dekat anak tapi pikiran di tempat lain

Tidak hanya bagus untuk pertumbuhan dan perkembangan psikologi anak, membina kedekatan dengan anak juga akan membuat orangtua menjadi pribadi yang lebih bahagia. Meskipun waktu bersama anak yang terbatas, sejatinya ada banyak hal yang dapat dilakukan ibu untuk membina kedekatan dengan anak.

Baca juga: Penyebab Orangtua Modern Mudah Marah kepada Anak

"Ibu sebaiknya hadir sepenuhnya (mindful) di sisi anak. Jangan ada di dekat anak tapi pikiran di tempat lain. Ibu bisa terlibat ikut main dengan anak atau ketika anak sudah cukup besar, ibu bisa memasak bersama anak," kata psikolog, Anna Surti Ariani yang Parentopedia lansir dari Kompas.

Psikolog keluarga ini mengatakan untuk membangun kedekatan dengan anak bisa dilakukan dengan bersantai dan saling berbagi cerita sebelum tidur. Misalnya, santai itu menciptakan kenyamanan sehingga mampu menghantar tidur jadi lebih nyenyak. Belailah dan peluk anak saat itu.

Kedekatan dengan anak ini menurutnya dapat membangun sifat-sifat baik pada diri anak. Sehingga tak perlu lagi kekerasan untuk mendisiplinkan, anak sanggup mematuhi orang tua dengan sepenuh hati. Hubungan dekat ini juga dapat mengurangi masalah anak hiperaktif dan kenakalan saat anak dan dewasa.

"Memang kasus anak hiperaktif ada yang disebabkan oleh faktor biologi. Tetapi ada pula ada kasus hiperaktif karena anak sendiri bingung karena tidak mendapat pemahaman, sentuhan dan pelukan dari orang tua," kata wanita yang akrab disapa Nina ini.

Penelitian menemukan bahwa mindful parenting alias pola asuh penuh kesadaran dapat mengurangi hiperaktivitas juga kenakalan di masa anak-anak dan dewasa. Dia mengatakan pendekatan ini cenderung melakukan pengasuhan dengan sepenuh hati untuk memeluk dan mendengarkan anak.

"Anak jadi lebih sensitif dan berempati kepada oran lain. Anak merasa dirinya dipahami, didengarkan dan dipedulikan. Ketika besar, ia akan menjadi orang dewasa yang bahagia, lebih percaya diri dan mau menolong orang lain," kata Nina.

Di sisi orang tua, kedekatan hubungan dengan anak ini bisa membuat orangtua, khususnya ibu pekerja menjadi manusia yang bahagia. Ibu akan lebih kenal pada anaknya sendiri, dapat mengekspresikan rasa cintanya sehingga menjadi orang yang lebih bahagia.

Kurangi Kenakalan Anak dengan "Mindful Parenting"

Ini Manfaat Pelukan Orangtua Kepada Anak

Pelukan orangtua bermanfaat dalam proses menumbuhkan mental yang kuat dan tangguh pada anak. Pelukan orangtua kepada anak dapat mengurangi tekanan permasalahan pada si anak, memulihkan dan menstabilkan emosi, dan mempengaruhi psikologi anak.

Seperti dilansir Parentopedia.net dari Kompas, hal ini diungkapkan Reni Murni, seorang motivator dan trainer nasional dalam dalam seminar Orang Tua Cerdas, Anak Berkualitas oleh Persit Kartika Chandra Kirana di Aula Makodam IV/Diponegoro, Semarang, Jumat (16/12/2016).

"Pelukan ayah membuat anak cerdas, merasa dicintai dan dihargai, mandiri dan pemberani. Pelukan ibu membuat anak sabar, lebih empatif, penyayang dan lembut," kata Reni.

Masih banyak orangtua yang tidak bisa menunjukkan kasih sayang secara verbal kepada anak dan berpendapat bahwa memenuhi kebutuan ekonomi lebih penting. Padahal, bukti kasih sayang, setidaknya pelukan, sangatlah penting bagi perkembangan emosional anak.

Reni memaparkan bahwa empat kali pelukan dalam sehari dapat mengurangi tekanan pada anak dan delapan kali pelukan dapat memulihkan, menenangkan, dan menstabilkan emosi. Sementara itu, 12 kali pelukan dalam sehari dapat mempengaruhi kondisi psikologis anak menjadi lebih baik.

"Sebuah studi mengatakan, pelukan antara orang tua dapat meningkatkan kecerdasan anak. Merangsang produksi hormon oksitosin," jelasnya.

Ini Manfaat Pelukan Orangtua Kepada Anak

Bantu Anak Menangani Stresnya dengan Cara Ini

Tidak hanya remaja atau orang dewasa saja yang mengalami stres dan tertekan. Anak-anak pun juga mengalami depresi dan tekanan di lingkungan mereka. Anak mungkin di-bully di sekolah atau tidak diterima oleh kelompok pertemanan. Mungkin juga mereka stres karena prestasi belajar.

Sebagai orangtua, Anda dapat segera bantu anak menangani stresnya dengan cara mengatakan kata-kata berikut ini, seperti dilansir Okezone (09/02).

"Itu bukan tekanan"

Anak-anak menganggap semua masalah mereka berat. Untuk itu mereka perlu penjelasan bahwa masalah yang mereka hadapi adalah hal biasa dalam hidup dan tak perlu terlalu dicemaskan. Bantu anak mengerti keadaan mereka.

"Kamu tak sendiri"

Jangan biarkan anak merasa kalau hanya merekalah yang sengsara di dunia ini. Katakan ada banyak orang yang bernasib serupa atau lebih buruk keadaanya dari mereka. Ajak anak berdiskusi sejak kecil.

"Kamu aman"

Sekali lagi, anak perlu tahu kalau mereka baik-baik saja. Bahwa tekanan hidup itu sama sekali tak berarti. Jelaskan mereka punya banyak kesempatan untuk memperbaiki banyak hal.

"Waktunya bersenang-senang"

Ketika Anda melihat anak mulai diam dan banyak cemberut, saatnya mengatakan hal itu kepada mereka. Ajak mereka melepas kecemasan dengan bermain dan melupakan tekanan yang dialami.

Bantu Anak Menangani Stresnya dengan Cara Ini

Anak yang Bebas Bermain Akan Tumbuh Lebih Baik

Studi yang dipimpin oleh Raktim Mitra dari Ryerson University menyimpulkan bahwa kebebasan bermain memberikan keleluasaan anak untuk mengeksplorasi potensi dan bakat tanpa batasan. Anak yang diberikan kebebasan dalam satu jam sehari tumbuh dengan fisik yang lebih kuat, empati tinggi, dan bahagia.

Studi yang dipublikasikan oleh Urban Studies itu mempelajari perkembangan anak yang dibiarkan bermain tanpa pengawasan. Dengan melibatkan 1.000 orangtua dari anak berusia lima hingga enam tahun merangkum temuan yang menarik. Hasilnya, anak yang bebas bermain selama satu jam per hari merasa lebih bahagia dan perkembangan motorik meningkat lebih baik.

Ternyata, peneliti menemukan bahwa kebanyakan anak-anak hanya bermain 30 menit per hari. Jumlah waktu itu kurang dari yang direkomendasikan yakni 60 menit/hari. Kemudian, peneliti juga mengumpulkan informasi bahwa hanya 20 persen anak yang secara fisik aktif. Sisanya, selalu bermain di dalam rumah, meskipun bermain di luar ruangan orangtua selalu memantau sembari meneriakkan sesuatu kepada mereka.

Lebih kurang hanya 16 persen orangtua yang membebaskan anak mengeksplorasi taman dan kota tanpa pengawasan. Selanjutnya, sebanyak 35 persen orangtua mengaku bahwa tidak mengizinkan anak keluar rumah tanpa dampingan. Kebanyakan orangtua merasa bahwa ketika mereka tidak mengawasi anak-anak, maka itu bukan pola asuh yang benar.

Anak yang Bebas Bermain Akan Tumbuh Lebih Baik

Jangan Hanya Fokus Anak Pintar Lalu yang Lain Dilupakan

Pertanyaan penting untuk semua orangtua. Apa tujuan Anda mengasuh anak? Sudahkah Anda menetapkan target tujuan apa yang iingin dicapai anak? Apakah hanya pintar saja? Berani? Percaya diri? Bisa bekerja di kemudian hari? Atau sehat?

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Pakar Pendidikan Najeela Shihab untuk mencoba membawa para orangtua berpikir apa tujuan mereka. Menurutnya, kebanyakan orangtua belum tahu arah tujuan mereka mendidik anak. Ini disampaikanya saat mengisi acara talkshow bertema anak di Jakarta.

"Terkadang hanya pintar saja, atau nilai sekolah bagus. Sementara, tujuan lainnya tidak dipikirkan," kata Najeela yang Parentopedia kutip dari okezone.com (07/02).

Lalu jika tujuannya hanya pintar di sekolah, orangtua jadi lupa membangun karakternya, lupa memikirkan makanan sehat, dan lupa yang lainnya. Padahal, mendidik anak tujuannya mencakup banyak hal, tidak hanya pintar saja.

"Bagaimana mendidik anak terampil, mental dan fisik sehat, berkarakter kuat, serta menjaga anak berada pada lingkungan yang positif," kata Najeela.

Jika itu dibangun, maka kebaikan-kabaikan lainnya akan terpenuhi. Anak yang tinggal di rumah bersih dan makan-makanan sehat, maka pertumbuhannya bagus, perkembangan otaknya optimal, maka anak menjadi pintar.

Jangan Hanya Fokus Anak Pintar Lalu yang Lain Dilupakan

Perkembangan Otak Anak Dapat Rusak Karena Hukuman

Bagaimana cara orang tua berinteraksi dan berhubungan dengan anak-anak di awal kehidupan mereka sangat berpengaruh, terutama dalam membangun otak anak. Pasalnya, selama seribu hari pertama kehidupan mereka, 700 koneksi saraf terbentuk dalam otak anak setiap detiknya.

Jackie Bezos, pimpinan Yayasan Keluarga Bezos, yayasan independen yang berkonsentrasi terhadap pendidikan dan lingkungan untuk anak yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat, menyatakan, tahun-tahun pertama kehidupan anak adalah tentang mengajarkan, bukan menghukum.

“Penelitian tentang perkembangan anak usia dini menunjukkan, faktor terpenting dalam menstimulasi perkembangan otak yang sehat adalah dengan interaksi berkualitas antara anak dan orang-orang di sekitarnya,” kata Jackie dikutip dari Tempo.

Menghadapi anak yang emosional dengan tindak kekerasan fisik dan verbal hanya akan menggoreskan luka di hati anak dan merusak perkembangan otak mereka. Bersabarlah, karena pasti akan tiba saatnya kemampuan anak mengendalikan emosi tumbuh dan berkembang.

Bantulah anak memahami dan mengendalikan emosi. Tidak perlu ikut terpancing emosi jika anak batita Anda mulai kehilangan kendali emosi. Ketika orang tua realistis terhadap kemampuan anak, mereka akan mampu mengatur perilaku dengan cara efektif dan bisa lebih sensitif terhadap kemampuan anak.

Hukuman Bisa Merusak Perkembangan Otak Anak

Subscribe Our Newsletter