Halaman

    Social Items

Akibat Jika Orangtua Sematkan Label Nakal pada Anak

Orangtua sering mengucapkan kata-kata negatif agar dapat mengubah perilaku anak atau setidaknya mereka sadar kalau dirinya salah, jera, dan tak akan mengulanginya lagi. Seperti menyematkan label bodoh, nakal, kurang ajar, payah, dan lain sebagainya. Kata-kata negatif tersebut yang dilontarkan orangtua kepada anak dapat merusak self esteem si kecil.

“Kata-kata pedas yang diucapkan kepada anak malah membuat anak akan tumbuh seperti apa yang diucapkan orangtuanya. Ya, kita semua tahu ucapan itu adalah doa, jadi jangan mendoakan yang buruk kepada anak,” tutur Monica Sulistiawati selaku psikolog anak dan remaja yang dilansir dari Okezone.

Dampak yang lebih buruk akan dirasakan anak ketika orangtua terus-terusan melontarkan kata-kata negatif terhadap si kecil. Monica mengimbau para orangtua agar mengganti kata-kata negatif dengan yang positif. Cobalah fokus ke hal-hal positif ketika bicara kepada anak.

“Misalnya bukan dengan mengatakan, ‘Kebiasaan deh kamu kalau main enggak pernah diberesin.’ Tetapi, gantilah ke kalimat positif seperti, ‘Dek, nanti kalau sudah selesai jangan lupa dibereskan ya mainannya!’ Dengan ucapan tersebut maka yang terekam dalam ingatan si anak adalah hal postif yang berdampak baik pula pada perilakunya,” jelas Monica.

Akibat Jika Orangtua Sematkan Label Nakal pada Anak


Anak-anak rentan sekali terhadap tekanan karena bullying atau komentar-komentar negatif di media sosial. Tak pelak, mental anak mudah sekali ambruk. Mereka menjadi cepat rendah diri dan minder. Bahkan, anak bisa depresi karena tak sanggup menyikapi bullying yang menghujani diri mereka.

Psikolog Anak dan Remaja, Monica Sulistiawati mengatakan anak harus dibekali self-esteem. Bahwa mereka punya harga diri sehingga tidak mudah percaya dengan perkataan negatif orang-orang kepada dirinya.

"Tugas orangtualah untuk mengatakan hal-hal positif tentang diri si anak. Jadi meskipun orang-orang menilainya buruk, anak yakin bahwa itu tidak benar dan perkataan orangtua benar," kata Monica yang dikutip dari Okezone.

Misalnya teman-teman mengejek anak dengan objek kekurangan fisik, pendek atau keribo. "Nah, maka tugas orangtua untuk memberi tahu kelebihan anak. Seperti. ‘Kamu pintar, bisa main piano, atau senyum kamu manis,” terang Monica.

Kata-kata pujian semacam itu memberi efek luar biasa bagi mental anak. Bahwa mereka punya kelebihan. Sehingga, mereka tidak mudah rapuh, galau, bahkan stres.

Meningkatkan Percaya Diri Anak dengan Memberi Pujian

Daripada Marah kepada Anak, Lebih Baik Lakukan Ini

Ketika anak melakukan kesalahan seringkali orang tua secara emosional menghukum anak. Memarahi dan menghukum anak ini ternyata bukan cara yang efektif. Lebih bahayanya lagi, jika Anda terlalu keras terhadap anak, dia akan menjadi lebih frustasi dan semakin tidak mau mendengarkan kata-kata orangtua.

Psikoterapis Lisa M. Barefoot Barn seperti yang dilansir dari Kompas, mengatakan, menggunakan isolasi, rasa takut, dan hukuman tidak ada fungsinya dalam mengasuh anak. Sayangnya, beberapa orangtua masih saja melakukan kekerasan dengan berteriak, mengancam, atau menghukum hingga anak menangis.

Sebaliknya, Barn menyarankan para orang tua untuk melakukan pendekatan yang lebih baik dan memberikan batasan yang sewajarnya. Untuk melakukan hal ini, yang pertama harus Anda lakukan adalah membuat perubahan cara berpikir.

Anak-anak bisa belajar dengan melihat hubungan dari melakukan kesalahan dan memperbaiki kesalahan. Mereka juga akan belajar memiliki tanggung jawab atas tindakannya dengan melihat perilaku Anda sehari-hari. Ketika mereka keras kepala, berikan mereka pemahaman dan pembelajaran secara baik-baik.

Kemudian, jangan langsung memarahi anak dan biarkan dia ke kamar tidurnya menghindari Anda. Setelah Anda mulai tenang, barulah berbicara kepada mereka. Terakhir, biarkan mereka memiliki pemikiran tersendiri, lalu bicarakan bersama. Jika Anda setuju ungkapkanlah, jika tidak setuju, maka berikan rencana baru tanpa marah.

Daripada Marah kepada Anak, Lebih Baik Lakukan Ini

Anak yang Sering Main Barbie Tumbuh Tak Percaya Diri

Para orangtua harus hati-hati dan waspada dengan kebiasaan anak perempuan bermain boneka Barbie. Sebuah studi menunjukkan bahwa Barbie memberikan dampak buruk terhadap perkembangan citra diri anak perempuan, terutama ketika mereka tumbuh dewasa. Selain itu, Barbie bisa membawa anak perempuan menderita gangguan makan, seperti aneroksia dan bulimia.

Beberapa waktu lalu, Mattel, perusahaan pencipta dan distributor resmi Barbie merilis boneka dengan bentuk tubuh menyerupai wanita pada umumnya. Barbie baru itu hadir dengan tubuh berisi, ragam warna kulit, dan tinggi tubuh. Namun, kehadiran seri baru tersebut tidak memberikan pengaruh signifikan. Setidaknya, begitulah hasil penelitian ini.

Studi menemukan bahwa anak perempuan berusia enam sampai delapan tahun yang sering main boneka Barbie sejak usia tiga tahun tumbuh dengan rasa tidak puas pada bentuk tubuh sendiri. Responden anak-anak perempuan memperlihatkan sikap tidak percaya diri, baik pada penampilan maupun kemampuan mereka.

Studi juga mengungkapkan, anak-anak perempuan telah mengenakan riasan wajah pada usia pra-remaja karena ingin berparas cantik seperti Barbie. Dr Kathleen Keller, pakar nutrisi dan ilmuwan pangan, dari Pennsylvania State University, menuliskan pada jurnal Body Image bahwa anak-anak perempuan memiliki emosional yang labil dan mudah terpengaruh.

“Pada masing-masing eksperimen, kami melihat anak perempuan menginginkan memiliki tubuh dan wajah seperti boneka mereka. Hasil studi ini memperlihatkan, waktu bermain dan alat permainan memiliki peran penting pada fase tumbuh kembang anak,” urainya seperti dikutip dari Kompas.

Sebaiknya orangtua memilihkan mainan boneka dengan bentuk dan wajah yang masuk akal. Belikan anak ragam jenis permainan, jangan hanya boneka Barbie. Satu hal yang sangat dianjurkan adalah mengizinkan anak untuk bermain dan banyak beraktivitas di luar ruangan.

Boneka Barbie telah menjadi ikon mainan favorit anak perempuan lebih kurang sejak 70 tahun lalu. Boneka Barbie yang cantik dengan padanan busana berwarna cerah memang sangat menarik perhatian banyak anak perempuan di dunia. Namun, para orangtua harus hati-hati dengan kebiasaan anak perempuan bermain Barbie.

Anak yang Sering Main Barbie Tumbuh Tak Percaya Diri

Akibat Memanjakan Anak Terbawa Sampai Dewasa

Orangtua selalu memberikan apa yang anak ingin sebagai wujud besarnya rasa sayang. Mulai dari mainan, buku, makanan, sampai aktivitas yang ingin anak lakukan. Namun, efeknya anak menjadi manja.

Terlalu menuruti keinginan anak tidak baik bagi perkembangan kepribadiannya. Anak tidak hanya manja di rumah, tetapi juga di lingkungan luar. Bahkan terbawa sampai ke tempat kerja.

Psikolog Klinis, Liza Marielly Djaprie mengatakan Efeknya bisa terbawa sampai sudah bekerja. Di kantor dia tidak bisa bekerja sama dengan tim, tidak bisa mengikuti peraturan kantor yang ketat, atau tidak mampu bersaing secara kompetitif.

Karena saat kecil sering sering dibela dan dimenangkan, sehingga di kantor dia tidak mau kalah, ingin pendapatnya saja yang didengar. Secara kompetisi dia juga tidak kuat bersaing lantaran sejak kecil tidak diajarkan berusaha keras untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

"Dari sisi sikap, si anak yang diasuh dengan pola dimanjakan akan berperilaku buruk. Misalnya, seenaknya menyuruh office boy, tidak santun kepada atasan, dan tidak dengan rekan kerja," kata Liza yang dikutip dari Okezone.

Akibat Memanjakan Anak Terbawa Sampai Dewasa

Trik Mengantisipasi Anak Rewel Minta Dibelikan Sesuatu

Menghadapi anak yang rewel di toko atau swalayan karena memaksa minta dibelikan sesuatu misalnya mainan atau jajanan membuat orangtua bingung dan stres. Bukan tidak ingin membelikan, tetapi pasti orangtua punya alasan tersendiri mengapa tidak mengabulkan permintaan si buah hati.

Jika keadaan seperti itu sudah berulang kali terjadi, sepertinya orangtua butuh trik untuk mengantisipasi agar anak tidak rewel memaksakan keinginannya di depan umum hingga menangis teriak-teriak. Ditulis di Okezone, Psikolog klinis, Liza Marielly Djaprie membeberkan triknya.

Buat kesepakatan

Sebelum pergi sepakati dulu di rumah. Misalnya ingin beli mainan kuda-kudaan, maka kalau anak minta mainan lain jelaskan pada dia kalau permintaan lain tidak ada dalam perjanjian.

Jadikan kebiasaan

Biasakan tidak selalu mengabulkan semua permintaan anak. Pilih momen-momen yang pas untuk membolehkan anak meminta sesuatu pada orangtua. Contoh, ketika si kecil berulang tahun, berprestasi di sekolah, atau berhasil melakukan sesuatu. Dalam hal ini orangtua mengajarkan hak dan kewajiban pada si buah hati.

Belajar tegas menolak

Orangtua harus tegas menolak kalau anak memaksa. Jangan mudah luluh karena anak menangis. Jangan merasa anak bikin malu. Jelaskan alasan kenapa dia tidak dibelikan mainan. Dalam kurun waktu 4-5 kali anak akan belajar dan mengerti.

Trik Mengantisipasi Anak Rewel Minta Dibelikan Sesuatu


Sebuah perusahaan asuransi di Inggris, LV, melakukan survei terhadap 3.000 nasabahnya untuk mengetahui kepuasan dan kebahagiaan dalam kehidupan seorang wanita. Ternyata, 87,2 persen responden yang mengatakan bahwa hidupnya sangat bahagia adalah ibu rumah tangga.

Seperti yang dilansir dari Kompas, profesi lain seorang ibu yang mengaku menjalani hidup yang membahagiakan yaitu 86,3 persen ibu bekerja di bidang kreatif dan seni, 84,4 persen ibu bekerja di ranah sosial, dan 83,9 persen ibu bekerja di industri wisata.

Sedangkan wanita yang menjalankan peran ganda sebagai ibu, istri, dan pekerja yang paling tidak bahagia adalah mereka yang bekerja sebagai polisi (59,4 persen), sales (67,4 persen), pegawai negeri (70 persen), dan pramuniaga (70,8 persen).

"Ibu rumah tangga lebih bahagia ketimbang wanita bekerja lainnya, tetapi Anda perlu tahu, waktu bekerja ibu rumah tangga itu nonstop, dan lebih melelahkan dari profesi lainnya di dunia," jelas kesimpulan pada hasil survei.

Ibu rumah tangga merupakan kelompok wanita yang menjalani hidup lebih bahagia juga dikuatkan dari survei lain yang digagas oleh National Statistics. Alasannya, mayoritas ibu rumah tangga merasa mengurus keluarga membuat mereka merasa berarti dan nikmat.

Ibu Rumah Tangga Ternyata Hidup Lebih Bahagia


Ada baiknya anak-anak tidak hanya bermain di dalam ruangan, manfaat dari bermain bagi anak akan lebih terasa saat anak bermain di luar ruangan. Anak belajar untuk mengalami sendiri sehingga perkembangan secara kognitif dan sosial bisa lebih optimal.

Saat bermain di luar ruang, anak-anak akan bertemu dengan banyak teman. Sang anak juga bisa mempelajari hal-hal baru dan kapan harus menggunakan keahlian tersebut. Bermain di luar ruangan juga akan memuaskan apa yang menjadi kebutuhan mereka.

"Salah satu tugas perkembangan anak adalah sebetulnya mereka mengeksplorasi sekeliling termasuk orang lain yang berpengaruh penting," kata Psikolog spesialis anak, Retno Dewanti Purba, yang Parentopedia.net kutip dari Republika.

Bermain bagi anak sebenarnya juga dapat digunakan untuk mengajari dan menanamkan mereka berbagai macam hal. Retno mencontohkan, sembari bermain, anak-anak dapat diperlihatkan bagaimana cara membersihkan diri dengan benar.

Hal itu, bisa dilakukan dengan menggunakan medium gambar atau menyontohkan langsung hal yang akan diajarkan dan dilakukan secara berulang. Ini lantaran kondisi kognitif anak masih belum sempurna sehingga lebih mudah diterima anak dengan bantuan visual.

Ajak Anak Bermain di Luar Ruangan, Ini Manfaatnya

Subscribe Our Newsletter