Rabu, 01 November 2017

Cara Sederhana Menumbuhkan Minat Baca Anak

Cara Sederhana Menumbuhkan Minat Baca Anak

Setiap orang tua pasti mendambakan memiliki anak yang gemar membaca. Minat baca seorang anak bisa terangkat bagaimana peran orang tua mendidiknya. Usahakan minat baca anak sudah ditanamkan sejak dini minimal di usia 3 tahun.

"Selama ini membaca hanya dijadikan evaluasi, baca ketika sedang ada tes, ujian dan di level mata pelajaran," kata Salah satu pendiri Litara Foundation, Sofie Dewayani yang Parentopedia.net lansir dari Republika.co.id (01/11).

Untuk itu, disarankan agar para orang tua bisa menumbuhkan minat baca anak. Cara yang paling sederhana adalah dengan menjadikan buku bagian dari kegiatan sehari-hari anak yang menyenangkan.

"Para orang tua perlu meluangkan waktu untuk membacakan buku-buku cerita menarik sesuai minat dan tingkat bahasa anak dengan ilustrasi ekspresif," kata Sofie.

Selain membacakan buku cerita banyak kegiatan lanjutan yang dapat dilakukan orang tua bersama anak terkait topik cerita, misalnya membahas cerita lebih dalam, menyanyi lagu-lagu yang berhubungan dengan topik atau tokoh cerita maupun mengubah cerita sesuai imajinasi anak.

Ia mengatakan dengan selalu mendampingi anak akan meningkatkan minat baca maupun kemampuan berbahasa anak dan secara tidak langsung juga melindungi anaknya dari berbagai bacaan yang tidak atau kurang sesuai.

Read more

Kamis, 26 Oktober 2017

Cara Sederhana Membuat Anak Merasa Berharga dan Dicintai

Cara Sederhana Membuat Anak Merasa Berharga dan Dicintai

Sangat mudah mencintai anak-anak, namun apakah anak-anak sudah merasa dicintai? Tidak diketahui pasti apakah anak-anak sudah merasa dicintai atau belum, sekalipun dengan orangtuanya sendiri.

Sebagai orangtua terkadang harus menemukan kenyataan pahit. Saat-saat harus melarang anak makan permen, junkfood, atau bermain di luar. Tentu larangan itu akan membuat anak merasa tidak dicintai.

Penting sekali menunjukkan ekspresi bahwa Anda mencintai mereka. Dilansir Parentopedia.net dari Okezone (26/10), berikut ini beberapa cara sederhana untuk membuat anak merasa bahwa mereka berharga dan dicintai orangtuanya.

Pujilah mereka

Anak-anak senang diberi lebih banyak pujian. Kata-kata sederhana seperti "pekerjaan bagus" setelah mereka menyelesaikan tugas atau "pekerjaan bagus" ketika mereka menyelesaikan masalah pekerjaan rumah sangat berarti. Kelengkapan ini akan membangun harga diri mereka, mengingatkan mereka akan cinta dan membangun kepercayaan diri.

Beri mereka pelukan

Sentuhan adalah bagian yang sangat penting dari perkembangan ana. Pelukan adalah cara mudah untuk meyakinkan anak-anak tentang cinta dan penghargaan terhadap siapa diri mereka. Seringlah memeluk anak-anak, bahkan saat Anda frustrasi sehingga mereka tahu bahwa orangtuanya masih mencintai mereka, meskipun mungkin mereka telah membuat kesalahan.

Merapikan kamar tidur mereka

Melayani adalah cara penting untuk menunjukkan kepada anak-anak bahwa Anda mencintai mereka. Berusahalah untuk melayani mereka dengan cara yang tidak terduga dengan melakukan tugas yang Anda harapkan mereka selesaikan. Ini bukan sesuatu yang perlu Anda lakukan setiap hari, tapi ketika Anda melakukannya mereka akan tahu orangtuanya mencintai mereka karena rela merapikan tempat tidur di kamar. Orangtua memang mencintai anak-anak. Tapi penting memberi tahu mereka.
Read more

Selasa, 10 Oktober 2017

Kiat Mendisiplinkan Anak dengan Pendekatan Positif

Kiat Mendisiplinkan Anak dengan Pendekatan Positif

Disiplin positif pada dasarnya adalah berfokus pada perilaku. Tentang bagaimana anak menghargai perilaku yang baik. Tapi tetap saja, ada penentang, terutama orangtua dari generasi terdahulu yang mengatakan bahwa mungkin kita semua "terlalu lembut" pada anak-anak. Generasi yang lebih tua, menganggap orangtua zaman sekarang terlalu "lembek" dalam mendisiplinkan anak.

Orangtua yang mendisiplinkan dengan taktik menakut-nakuti atau mengancam harus membuka pikiran mereka terhadap gagasan bahwa mungkin anak-anak dapat belajar berperilaku baik tanpa harus merasa takut. Berfokus pada hal positif kepada setiap anak dapat menghasilkan orang dewasa yang sehat dan kuat. Inilah dua kiat mendisiplinkan anak dengan pendekatan positif.

Berfokus pada kebaikan

Jika Anda berfokus pada semua hal buruk yang dilakukan anak, dijamin anak akan melakukan lebih banyak hal buruk. Mereka akan tumbuh dengan asumsi bahwa dia hanya mampu melakukan hal buruk dan bukanlah orang yang layak.

Disiplin positif bekerja karena mengajarkan seorang anak bahwa dia memiliki begitu banyak nilai dan mampu melakukan hal-hal hebat. Seorang anak yang memiliki harga diri adalah anak yang bahagia akan berperilaku baik hampir sepanjang waktu.

Membangun harga diri

Jika Anda berteriak pada seseorang, apa yang terjadi? Orang itu biasanya berteriak, lari, atau mungkin memukul. Kemarahan hanya menimbulkan kemarahan lagi. Atau lebih buruk lagi, mundur. Anak Anda pasti akan takut kepada Anda.

Ada perbedaan antara rasa takut dan rasa hormat. Rasa takut bisa berubah menjadi satu dari dua hal penghindaran total atau pemberontakan tuntas. Anak akan berhenti berjuang melakukan beberapa hal dan memperbaiki dirinya.

Untuk itu hormatilah harga diri anak. Dengan tidak merendahkan martabat mereka dengan berteriak atau marah, apalagi memukul. Motivasi anak untuk melakukan hal baik dalam menjalankan disiplin.

Sumber: okezone
Read more

Sabtu, 30 September 2017

Yang Perlu Dilakukan Ketika Anak Sering Berkata Kasar

Yang Perlu Dilakukan Ketika Anak Sering Berkata Kasar

Pergaulan anak yang semakin luas, tak hanya di dalam rumah lagi, namun di luar rumah dan di sekolah. Selain memberikan efek positif, juga dapat menyumbangkan efek negatif. Salah satu efek negatif itu, anak jadi mendapat perbendaharaan kata-kata kasar/jorok yang menyebabkan para orangtua bingung dalam mengatasi perilaku anak ini.

Perilaku suka meniru amat melekat pada anak-anak. Apa yang dilihat atau didengar di lingkungannya, akan ditiru anak. Begitu ada sesuatu yang baru di lingkungan, termasuk kata-kata kasar/jorok akan cepat diadopsinya. Selain itu, kemampuan anak untuk mempelajari hal baru berkembang pesat dan bersemangat mengeksplorasi berbagai hal di lingkungan.

Pada umumnya, saat anak berkata kasar, ia belum memahami benar arti kata-kata yang ia ucapkan. Anak pun belum memahami, apakah kata-kata itu pantas atau tidak pantas untuk diucapkan. Jadi, anak mengatakan hal itu bukan bermaksud memaki, tetapi semata-mata hanya sekadar meniru. Apalagi jika reaksi lingkungan mendukung hal itu.

Tentunya orangtua tak boleh berdiam diri. Kita perlu meluruskan sikap atau perilaku anak agar tidak menimbulkan hal-hal negatif lain. Apalagi kalau sampai menganggap, anak berkata kasar adalah hal biasa-biasa saja, bukan sesuatu yang ”tabu”. Berikut ini langkah-langkah bijak yang dapat diambil saat anak berkata kasar seperti yang Parentopedia.net lansir dari Kompas (30/09).

Saat anak berkata kasar, awasi dan dampingi anak saat bermain. Hindari lingkungan yang “mengesahkan budaya” berucap kata-kata tak pantas. Namun perlu diingat, kita tidak bisa terus-menerus “mensterilkan” lingkungan anak. Lambat-laun akan ada pengaruh dari lingkungan luar yang memang tidak sesuai dengan nilai-nilai positif yang telah ditanamkan di rumah (keluarga).

Saat anak berkata kasar, jelaskan arti katanya. Coba tanyakan pada anak apa maksud anak berkata kasar. Bisa jadi ia memang belum paham arti kata-kata kasar/jorok itu dan belum sadar kalau kata-kata itu dapat menyakiti orang lain. Gali pemahaman anak tentang kata tersebut dan mencari tahu alasan ia melontarkannya, lalu meluruskan perilakunya yang kurang terpuji itu.

Membuat kesepakatan saat anak berkata kasar. Bila anak menggunakan kata kasar, buat kesepakatan dengannya. Contoh, bila ia masih mengucapkan kata tersebut, padahal sudah dinasihati, maka ia akan dihukum sesuai yang sudah disepakati. Berusahalah bersikap wajar/tidak. Kemarahan terkadang justru membingungkan anak dan tidak efektif mencegahnya untuk kembali berkata kasar.

Orangtua harus jeli mencari penyebab anak makin senang menggunakan kata-kata kasar/jorok tersebut. Apakah tiap kali ia berucap kata-kata kasar, lalu ditertawakan oleh para anggota keluarga lain di rumah? Kalau memang demikian, beri pengertian pada anggota keluarga lainnya untuk tidak memberikan respons positif bila anak melontarkan kata-kata yang kurang pantas. Umumnya, anak akan segera menghentikan kebiasaan buruknya karena ia tahu tidak sukses mendapat perhatian dari perilaku itu.
Read more

Jumat, 15 September 2017

Apa Penyebab Sudah SD Tapi Anak Masih Suka Ngompol?

Apa Penyebab Sudah SD Tapi Anak Masih Suka Ngompol?

Ketika masih berusia di bawah 6 tahun, ngompolnya anak masih dimaklumi. Tapi setelah masuk sekolah dasar (SD), anak akan merasa malu jika masih saja ngompol. Hmm apa ya penyebabnya anak SD yang masih suka ngompol? Anak yang ngompol terus, kadang membuat pusing sendiri. Pagi ini anak ngompol besok pagi ngompol lagi, seprai lama-lama habis. Kasur belum kering, sudah diompoli lagi

Menurut Howard Bennett MD, seorang dokter anak dari Washington DC, anak akan dengan sendirinya bisa mengontrol kantung kemih di malam hari. Tetapi setiap anak bisa melakukan hal tersebut di usia yang berbeda-beda. Sebanyak 5 dari 7 juta anak di dunia ngompol saat tidur. Setelah usia 5 tahun, sekitar 15 persen yang masih ngompol dan saat anak menginjak umur 10 tahun, sekitar 5 persen.

"Anak yang masih ngompol sebagian besar karena genetik. 3 Dari 4 anak yang masih ngompol, orang tuanya dulu juga sering ngompol saat masih kecil. Beberapa ahli menyatakan bahwa gen spesifik yang membuat kontrol kantong kemihnya telat terletak di kromosom 12, 13 dan 18," kata Bennett yang Parentopedia.net kutip dari HaiBunda (15/09/).

Lalu ada beberapa faktor lagi selain genetik yang menyebabkan anak masih suka ngompol, Bennett mengatakan, pertama yaitu pematangan kantong kemihnya terlambat. Jika kantong kemih dan otak matang dengan wajar maka perlahan anak bisa belajar untuk mengontrol pipis saat tidur. Nah, kalau yang pematangannya lambat, maka akan lebih susah mengontrol pipisnya.

"Selain itu, kadar hormon anti-diuretik (ADH) yang rendah juga bisa menyebabkan anak sering ngompol. Hormon anti-diuretik membuat ginjal untuk mengurangi produksi urine. Beberapa studi mengatakan anak-anak yang kekurangan hormon tersebut, cenderung mengompol," jelas Bennett

Penulis buku Waking Up Dry: A Guide to Help Children itu juga mengatakan, tidur yang terlalu lelap juga mengakibatkan anak-anak ngompol. Hal ini karena otak mereka tidak mendapatkan sinyal kalau kantong kemihnya penuh. Kantong kemih yang 'sempit' juga bisa menjadi penyebabnya.

"Meskipun kantong kemih anak-anak ukurannya normal, kadang saat tidur, kantong kemihnya mengirim sinyal 'penuh' lebih dulu. Jangan salah, konstipasi bisa menyebabkan anak bisa ngompol. Kalau usus besar sudah penuh dengan kotoran maka akan menekan kantong kemih, sehingga keluarnya air seni tak bisa dikontrol," kata Bennett.

Semantar itu, menurut Marcella A Escoto DO dari Critical Care and Medicine, Orlando, AS, jika anak ngompol terus-menerus sebaiknya diperiksakan ke dokter spesialis. Kalau memang nggak ada hasil yang negatif, maka kita harus bisa mengetahui kebiasaan anak sebelum tidur yang menyebabkan anak terus-menerus ngompol.

"Kita harus yakinkan anak kita kalau ngompol itu normal saat pertumbuhan. Hal tersebut mungkin akan menenangkan anak kita yang malu dan masih berusaha untuk tidak mengompol. Usahakan anak minum air mineral yang banyak saat siang hari sehingga pada malam hari tak perlu minum terlalu banyak," saran Escoto.

Kita harus mengingatkan anak saat ingin tidur maka harus buang air kecil lebih dahulu. Banyak sekali cara yang bisa kita lakukan untuk memberikan motivasi ke anak, seperti mengumpulkan stiker sebagai hadiah kecil kalau anak berhasil nggak ngompol malam itu. Jika sudah terkumpul banyak bisa ditukarkan buku atau boneka.

"Saat anak ngompol, jangan marahi atau berikan hukuman. Libatkan anak untuk membantu kita mengganti seprai tempat tidur. Jangan lupa juga untuk selalu berikan pujian pada anak, kalau ia tidak mengompol," tutup Escoto.
Read more

Selasa, 12 September 2017

Cara Orangtua Untuk Mendukung Anak Meraih Cita-cita

Cara Orangtua Untuk Mendukung Anak Meraih Cita-cita

Setiap orang tua ingin anaknya berhasil meraih impian dan cita-cita. Tapi sudahkah Anda melakukan tugas Anda untuk mendukungnya? Ada peran penting dari orang tua sebagai support system bagi anak. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua seperti yang Parentopedia.net lansir dari Parenting Indonesia (12/09):

Memberi contoh

Orang tua merupakan sosok yang ditemui anak setiap hari di rumah. Sikap dan sifat anak kebanyakan merupakan cerminan dari orang tuanya. Itu sebabnya, orang tua harus menunjukkan sikap optimis di depan anak-anaknya, agar anak bisa meniru dan memiliki rasa percaya diri. Jadilah orang tua yang patut dicontoh oleh anak. Dan yang paling penting, bentuklah lingkungan yang memungkinkan anak Anda dapat tumbuh menjadi individu yang percaya diri.

Beri kesempatan menyelesaikan masalah

Orang tua tak perlu terlalu sering membantu anak dalam memecahkan suatu masalah yang sedang ia hadapi. Ketika anak kesulitan menemukan jawaban PR atau menempatkan satu keping potongan puzzle, sangatlah mudah bagi Anda untuk mengintervensi dan membantu anak menyelesaikan masalahnya.

Yang perlu Anda lakukan adalah mengatakan pada anak bahwa Anda percaya ia mampu menyelesaikan sendiri masalahnya. Membiarkan anak menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan Anda akan meningkatkan rasa bangga atas pencapaiannya, serta membuatnya lebih optimis mengenai apa yang bisa dilakukannya di masa mendatang.

Temani anak berjuang

Anak mungkin pernah merasa ingin menyerah pada hal-hal yang sedang dilakukannya. Misalnya, “Aku nggak bisa soal matematika ini!”. Untuk mencegah anak berkesimpulan seperti itu, cobalah ubah perspektifnya. Cobalah bingkai ulang pemikirannya menjadi lebih positif dengan mengatakan hal berikut, “Sekarang kamu belum bisa mengerjakannya, tapi nanti pasti bisa.”

Biarkan anak tahu bahwa bukan dia satu-satunya yang frustasi, karena teman-temannya yang lain pasti mengalami hal ini juga. Supaya ia tetap optimis, Anda boleh membantunya mengingat kembali tentang keberhasilannya yang lalu, misalnya, “Ingat, kan, dulu kamu sama sekali tidak bisa berenang, Tapi lihat sekarang, kamu berenang seperti ikan.”

Tetaplah realistis

Saat anak sedang sedih, Anda mungkin begitu ingin menghibur anak dengan kata-kata yang manis dan bisa membuat anak kembali ceria. Misal ketika anak baru saja merusakkan mainannya secara tidak sengaja, Anda mungkin ingin berkata “Tenang, nanti dibelikan lagi sama papa mainan yang baru.” Padahal, bisa jadi kata-kata yang Anda ucapkan itu mengandung harapan palsu.

Lebih baik katakan pada anak, “Ya, Mama tahu kamu tidak sengaja menjatuhkannya. Sekarang mainan kamu rusak, ya memang itulah risikonya kalau kita tidak hati-hati.” Ironisnya, meyakinkan anak bahwa segalanya akan baik-baik saja justru akan membawa dampak yang sebaliknya. Rasa optimis yang sesungguhnya membutuhkan pemikiran yang realistis, tak sekadar pemikiran yang positif.
Read more

Minggu, 10 September 2017

Jauhkan Anak dari Makanan Manis dan Gurih, Ini Alasannya

Jauhkan Anak dari Makanan Manis dan Gurih, Ini Alasannya

Anak-anak pasti suka makanan manis dan gurih. Tapi demi alasan kesehatan, sebaiknya jauhkan anak-anak dari makanan yang mengandung fruktosa, seperti yang terkandung dalam minuman bersoda dan minuman manis lain sejak dini.

Mereka juga harus dijauhkan dari makanan yang mengandung banyak garam, pizza, biskuit, dan yoghurt karena bisa mempengaruhi kesehatan liver. Itulah hasil sebuah penelitian yang diadakan oleh tim dari Rumah Sakit Bambino Gesu di Italia.

Seperti Parentopedia.net lansir Tempo (09/09), makanan yang mengandung fruktosa bisa meningkatkan konsentrasi serum asam urik.

Konsentrasi asam urik dan konsumsi fruktosa biasanya sangat tinggi pada mereka yang memiliki kandungan lemak liver non alkohol (NAFLD) yang tinggi. NAFLD adalah kondisi di mana kelebihan lemak berkumpul di sel-sel liver pada mereka yang tidak mengkonsumsi minuman beralkohol.

Baca: Akibat Memanjakan Anak Terbawa Sampai Dewasa

Penyakit ini dialami oleh 30 persen penduduk di dunia Barat secara umum, 9,6 persen pada anak-anak, dan 38 persen adalah anak-anak obesitas karena pengaruh penyakit liver. Kondisi akan memburuk seiring dengan pertambahan usia anak.

“Ada kemungkinan asupan fruktosa dan konsentrasi asam urik adalah faktor risiko potensial perkembangan penyakit liver NAFLD,” jelas Valerio Nobil dari RS Bambino Gesu.
Read more

Jumat, 08 September 2017

Inilah Pemahaman Anak Ketika Dia Dihukum dengan Dipukul

Inilah Pemahaman Anak Ketika Dia Dihukum dengan Dipukul

Banyak orangtua memilih mendisiplinkan anak-anak dengan cara memukul. Namun sebuah penelitian mengungkap bahwa hukuman fisik dapat benar-benar ‘mengurangi’ masalah yang abu-abu di otak anak-anak. Miris mungkin, penelitian ini menyimpulkan bahwa memperlihatkan hukuman fisik yang keras menimbulkan efek merugikan pada lintasan perkembangan otak anak.

Inilah pemahaman yang berkembang di otak anak ketika dihukum dengan cara dipukul, seperti yang Parentopedia.net lansir dari Yourtango (08/09).

Orang yang lebih besar seharusnya memukul orang-orang yang lebih kecil

Orangtua mengirim pesan bahwa orangtua dan orang yang lebih besar memiliki hak untuk memukul orang yang lebih muda dan lebih kecil. Hal ini sangat membingungkan saat Anda mendisiplinkan anak karena memukul seseorang. Menurut Anda apa yang terjadi bila anak tumbuh lebih besar dari Anda nanti?

Orang yang "lebih kuat" bisa memutuskan mana yang benar

Jika orangtua menggunakan hukuman fisik untuk menunjukkan pada anak dia melakukan sesuatu yang salah, Anda mengirim pesan yang tidak diinginkan bahwa siapa saja yang lebih besar dan lebih kuat dapat memutuskan hal benar dan yang salah. Apakah ini berarti anak dapat menentukan apa yang benar saat dia menjadi lebih kuat dari Anda? Ya, ini berkontribusi memberi pemahaman tak lazim.

Kekerasan memecahkan masalah

Memukul juga menunjukkan anak-anak bahwa kekerasan adalah cara yang tepat untuk memecahkan masalah hidup. "Jika saya tidak menyukai apa yang Anda lakukan, maka saya akan memukul kamu." Menghukum secara fisik anak dapat dianggap sebagai bentuk intimidasi, mengirimkan pesan kepada anak bahwa ini adalah cara efektif untuk membuat orang lain melakukan sesuatu sesuai keinginannya.

Ada yang salah dengan mereka

Ketika anak-anak seharusnya melindungi tapi yang terjadi sebaliknya, hal itu menyebabkan anak bertanya, "Apa yang salah dengan saya?" Harga diri adalah hal yang sangat penting dan riskan Jika Anda ingin anak berhasil dalam hidup, tingkat harga dirinya akan menjadi faktor penentu utama.
Read more

Selasa, 05 September 2017

Pertanyaan-Pertanyaan Untuk Menggali Rasa Ingin Tahu Anak

Pertanyaan-Pertanyaan Ini Bisa Untuk Menggali Isi Hati Anak

Anak-anak sering mengajukan banyak pertanyaan. Terkadang yang ditanyakan berulang-ulang. Sebagai orangtua, kita pun sering terus mengulang jawabannya, lagi dan lagi.

Seperti yang Parentopedia.net lansir dari Kompas (05/09), faktanya seorang anak usia prasekolah akan menanyakan 300 pertanyaan setiap hari. Bayangkan jika kita harus menjawab semuanya!

Untuk menggali rasa ingin tahu anak, para ahli menyarankan agar orangtua mendorong anak-anaknya bertanya lebih banyak lagi dan juga memberi contoh dengan mengajukan pertanyaan pada mereka.

Ketika kita menjawab pertanyaan anak, mereka akan cenderung memiliki pikiran yang terbuka. "Orangtua juga bisa memberi contoh pertanyaan yang bagus itu seperti apa dan bagaimana," kata Michele Borba, pakar parenting.

Baca: Dampak Orangtua Malas Menjawab Ketika Anak Banyak Bertanya

Bagi orangtua yang bekerja di luar rumah dan hanya punya banyak waktu dengan anak di malam hari, dari pada bertanya "bagaimana hari kamu?" cobalah contoh-contoh pertanyaan ini untuk memulai komunikasi yang lebih terbuka.

1. Apa yang sering kamu khayalkan?
2. Apa yang membuat kamu bahagia?
3. Jika kamu bisa melakukan apa saja saat ini, apa yang akan kamu lakukan?
4. Apa yang pertama kamu cari saat bangun tidur?
5. Karakter dalam film atau buku apa yang paling membuat kamu tertawa?
6. Jika kamu punya toko, barang apa yang akan kamu jual?
7. Apa yang membuat kamu merasa berani?
8. Apa yang membuat kamu merasa dicintai?
9. Bagaimana kamu menunjukkan pada orang lain kamu peduli?
10. Apa yang kamu rasakan saat ayah atau ibu memelukmu?
11. Apakah kamu banyak tertawa atau tersenyum hari ini?
12. Apa yang membuatmu merasa bersyukur?
13. Suara apa yang paling kamu suka?
14. Jika hewan bisa bicara, apa yang akan kamu tanyakan pada mereka?
15. Jika kamu jadi chef dan punya restoran, makanan apa yang akan kamu sajikan?
Read more

Senin, 04 September 2017

Anak Punya Dunia Sendiri, Jangan Batasi Kreativitasnya

Anak Punya Dunia Sendiri, Jangan Batasi Kreativitasnya

Orang dewasa kebanyakan memberikan umpan balik dengan komentar negatif terhadap hasil karya anak. Hal itu sangat mempengaruhi imajinasi anak sehingga menjadi terbatas. Misalnya, melarang anak bermain musik, terlalu mengarahkan buku bacaan anak, menyalahkan warna yang dibubuhkan anak di kertas saat melukis, dan lain sebagaimnya.

Ingat anak punya dunia sendiri dan mereka sedang berproses. Mulai sekarang berhenti membatasi kretivitas anak dengan menerapkan banyak aturan dan komnetar negatif. Dilansir Parentopedia.net dari Okezone (04/09) berikut cara yang bisa dilakukan orangtua agar imajinasi dan kreativitas anak berkembang.

Setting otak

Orang dewasa bisa menyeting pikiran mereka. Seperti berpikir video game buruk dan tidak ada masa depan untuk musik. Perlu diketahui bahwa gagasan semacam itu sudah ketinggalan zaman. Untuk menumbuhkan kreativitas anak Anda, mungkin memerlukan rewiring otak dan cara berpikir sendiri. Hentikan diri untuk tidak menggunakan autopilot dan memuji produk, bukan prosesnya. Langit mungkin tidak biru, tapi butuh waktu lama bagi anak dan kerja keras untuk menciptakan langit berwarna. Sadarilah bahwa seni digital sama kreatifnya dengan menggambar dengan pensil dan tinta.

Sadarilah dunia anak, bukan dunia Anda

Berhentilah mencoba membuat anak-anak melihat dunia seperti yang Anda lihat. Penghakiman, sudut pandang adalah milik Anda. Orang dewasa sudah punya banyak pengalaman dan dapat mengukurnya. Sementara anak-anak baru punya secuil pengalaman dan masih menggunakan imajinasi lebih baik daripada orang dewasa. Izinkan anak bebas menggunakan indra mereka sendiri untuk diri sendiri, tidak bias seperti saran orangtuanya. Berikan anak alat, ruang dan waktu untuk membantu menumbuhkan kreativitas mereka. Bekerjalah dengan proses kreatif anak, jangan melawannya. Anda tidak pernah tahu, mungkin mereka akan menjadi inovator besar selanjutnya.

Jangan mengganggu proses kreatifnya

Jangan menghalangi permainan mereka. Ketika amak menambahkan seember air ke tumpukan kotoran itu dan mulai meremas tangan mereka melewatinya, gigit lidah Anda. Ketika mereka meletakkan kuas cat mereka dan memasukkan jari mereka langsung ke cat dan mulai mewarnai kertas mereka dengan cap jempol, putar tangan Anda di belakang punggung dan tutup mulut Anda. Anda hanya boleh menyaksikan imajinasi mereka saat bekerja. Anda bisa menyemprotnya dan membasuhnya setelah itu.

Baca: Hal Sederhana Untuk Melatih Kecerdasan Anak

Berhenti mengkritik

Anda mungkin percaya kritik konstruktif dapat membantu, tapi itu menghancurkan kreativitas mereka. Ketika mereka memulai, mereka mungkin telah membayangkan karya mereka dalam pikiran mereka, tapi inilah proses yang melatih kreativitas, bukan hasilnya. Mereka akan belajar lebih banyak dari percobaan dan kesalahan mereka sendiri.
Read more

Sabtu, 02 September 2017

4 Jenis Foto Anak yang Tak Boleh Diposting ke Media Sosial

4 Foto Anak yang Tak Boleh Diposting ke Media Sosial

Saat ini banyak orang tua gemar mengunggah foto buah hatinya ke akun media sosial. Kendati niatnya baik, orang tua tentu harus mengutamakan bagaimana supaya anak selalu terlindungi, termasuk gambar anak pada foto.

Ada beberapa jenis foto anak yang sebaiknya tak diposting ke media sosial karena akan rawan disalahgunakan. Sebab ketika memposting foto itu ke Internet, siapapun akan bisa melihat, menyimpan dan mengolahnya.

Baca: 4 Tanda Orangtua Terlalu Memanjakan Anak

Berikut ini empat jenis foto anak yang tak boleh disebarkan ke media sosial, seperti yang Parentopedia.net kutip dari laman Young Parents (02/09).

1. Dokumen penting
Jangan memposting foto paspor ketika akan bepergian ke luar negeri, termasuk untuk orang dewasa sekalipun. Sebab secara tidak langsung, Anda menyebarkan informasi pribadi ke publik.

2. Foto di depan rumah
Waspadai nomor rumah atau informasi spesifik di lingkungan rumah Anda yang mudah dikenali agar tidak terlihat dalam foto yang akan diunggah. Ini untuk menghindari dari orang yang berniat jahat.

3. Foto dengan latar yang luas
Pastikan posisi anak berada di sebelah orang atau objek lain saat difoto. Tujuannya, foto tersebut tidak mudah diedit dengan menambahkan orang atau objek lain di samping anak.

4. Foto privasi
Foto yang menyangkut privasi anak sebaiknya disimpan saja sebagai koleksi pribadi. Contoh ketika anak sedang terbaring sakit, terluka, atau sedang mandi. Memposting foto anak yang seperti ini bisa disalahgunakan.
Read more